About these ads

Category Archives: Ilmu Kesehatan Anak

Rubella

Campak Jerman

Campak_Jerman.jpg

 

DEFINISI

  • Campak Jerman (Rubella, Campak 3 hari) adalah suatu infeksi virus menular, yang menimbulkan gejala yang ringan (misalnya nyeri sendi dan ruam kulit).
  • Berbeda dengan campak, rubella tidak terlalu menular dan jarang menyerang anak-anak.
  • Jika menyerang wanita hamil (terutama pada saat kehamilan berusia 8-10 minggu), bisa menyebabkan keguguran, kematian bayi dalam kandungan atau kelainan bawaan pada bayi.

PENYEBAB

  • Penyebabnya adalah virus.
  • Virus rubella ditularkan melalui percikan ludah penderita atau karena kontak dengan penderita. Penyakit ini juga ditularkan dari ibu hamil kepada janin yang berada di dalam kandungannya.
  • Penderita bisa menularkan penyakit ini pada saat 1 minggu sebelum munculnya ruam sampai 1 minggu setelah ruam menghilang.
  • Bayi baru lahir yang terinfeksi ketika masih berada dalam kandungan, selama beberapa bulan setelah lahir, bisa menularkan penyakit ini.
  • Kekebalan seumur hidup diperoleh setelah menderita penyakit ini.
  • Wabah bisa terjadi dengan interval 6-9 tahun.
  • Sindroma rubella kongenital terjadi pada 25% atau lebih bayi yang lahir dari ibu yang menderita rubella pada trimester pertama. Jika ibu menderita infeksi ini setelah kehamilan berusia lebih dari 20 minggu, jarang terjadi kelainan bawaan pada bayi.
  • Kelainan bawaan yang bisa ditemukan pada bayi baru lahir adalah tuli, katarak, mikrosefalus, keterbelakangan mental, kelainan jantung bawaan dan kelainan lainnya.

GEJALA

  • Gejala mulai timbul dalam waktu 14-21 hari etelah terinfeksi.
  • Pada anak-anak, gejalanya diawali dengan rasa tidak enak badan selama 1-5 hari, demam yang tidak begitu tinggi (38? Celsius), disertai pembengkakan kelenjar getah bening kepala dan leher, kadang disertai nyeri sendi. Tidak terdapat nyeri tenggorokan, tetapi tenggorokan hanya terlihat agak merah.
  • Pada dewasa, gejala awal tersebut sifatnya ringan atau sama sekali tidak timbul.
  • Ruam (kemerahan kulit) muncul dan berlangsung selama 3 hari. Pada mulanya ruam timbul di wajah dan leher, lalu menyebar ke batang badan, lengan dan tungkai.
  • Pada langit-langit mulut timbul bintik-bintik kemerahan.

Ruam campak Jerman

DIAGNOSA

  • Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala.
  • Diagnosis pasti pada ibu hamil bisa ditegakkan melalui pengukuran kadar antibodi terhadap virus rubella.

KOMPLIKASI

  • Kebanyakan anak-anak mengalami penyembuhan total.
  • Anak laki-laki atau pria dewasa kadang mengalmi nyeri pada testis (buah zakar) yang bersifat sementara.
  • Sepertiga wanita mengalami nyeri sendi atau artritis.
  • Pada wanita hamil, campak Jerman bisa menyebabkan keguguran, kematian bayi dalam kandungan ataupun keguguran.
  • Kadang terjadi infeksi telinga (otitis media). Infeksi otak (ensefalitis) jarang terjadi.

PENGOBATAN

  • Tidak ada pengobatan khusus untuk campak Jerman.
  • Untuk menurunkan panas bisa diberikan Acetaminophen.

PENCEGAHAN

  • Vaksin rubella merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak=-kanak.
  • Vaksin MMR diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.
  • Wanita usia subur bisa menjalani pemeriksaan serologi untuk rubella.
  • Jika tidak memiliki antibodi, diberikan imunisasi dan baru boleh hamil 3 bulan setelah penyuntikan.
  • Vaksinasi sebaiknya tidak diberikan ketika ibu sedang hamil atau kepada orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan akibat kanker, terapi kortikosteroid maupun terapi penyinaran.

Sumber : www.medicastore.com

About these ads

Demam Rematik

Demam Rematik

Demam_Rematik.jpg

 

DEFINISI

Demam Rematik adalah suatu peradangan pada persendian (artritis) dan jantung (karditis).

PENYEBAB

  • Demam rematik biasanya terjadi akibat infeksi streptokokus pada tenggorokan.
  • Demam rematik bukan merupakan suatu infeksi, tetapi merupakan suatu reaksi peradangan terhadap infeksi, yang menyerang berbagai bagian tubuh (misalnya persendian, jantung, kulit).
  • Resiko terjadinya demam rematik meningkat pada status gizi yang buruk dan tempat tinggal yang sesak.
  • Kemungkinan terjadinya demam rematik pada infeksi streptokokus ringan yang tidak diobati adalah 1 diantara 1.000; sedangkan pada infeksi yang lebih berat meningkat menjadi 3 diantar 100.

GEJALA

Gejalanya bervariasi, tergantung kepada bagian tubuh yang meradang.
Biasanya gejala timbul beberapa minggu setelah nyeri tenggorokan akibat streptokokus menghilang.

Gejala utamanya adalah:

  • Nyeri persendian (artritis)
  • Nyeri dada atau palpitasi (jantung berdebar) karena karditis
  • Renjatan/kedutan diluar kesadaran (corea Sydenham)
  • Ruam kulit (eritema marginatum)
  • Benjolan kecil dibawah kulit (nodul).
  • Gejala awal yang paling sering ditemukan adalah nyeri persendian dan demam. 1 atau beberapa persendian secara tiba-tiba menjadi nyeri dan bila disentuh terasa nyeri. Persendian juga mungkin tampak merah, teraba hangat dan membengkak dan mungkin mengandung cairan.
  • Yang paling sering terkena adalah sendi pergelangan kaki, lutut, sikut dan pergelangan tangan; kadang artritis juga menyerang sendi bahu, pinggul dan persendian kecil di tangan dan kaki.
  • Jika nyeri pada suatu persendian menghilang, maka akan timbul nyeri pada persendian yang lain, terutama pada anak yang tidak menjalani istirahat baring dan tidak mendapatkan obat anti peradangan.
  • Kadang nyeri sendi ini sifatnya sangat ringan.
  • Demam timbul secara tiba-tiba dan bersamaan dengan timbulnya nyeri persendian; demam bersifat turun-naik.
  • Nyeri persendian dan demam biasanya berlangsung selama 2 minggu dan jarang berlangsung lebih dari 1 bulan.
  • Peradangan jantung seringkali timbul bersamaan dengan nyeri persendian dan demam.
  • Pada awalnya, peradangan jantung tidak menimbulkan gejala.
  • Peradangan pada kantung jantung menimbulkan nyeri dada.
  • Bisa terjadi gagal jantung, dengan gejala:
    • Sesak nafas
    • Mual
    • Muntah
    • Nyeri lambung
    • Batuk kering.
  • Peradangan jantung menyebabkan anak mudah mengalami kelelahan.
  • Karditis menghilang secara beratahap, biasanya dalam waktu 5 bulan. Tetapi mungkin saja terjadi kerusakan permanen pada katup jantung sehingga terjadi penyakit jantung rematik.
  • Yang paling sering terkena adalah katup antara atrium dan ventrikel kiri (katup mitral). Bisa terjadi kebocoran pada katu (regurgitasi katup mitral) atau penyempitan (stenosis katup mitral) atau keduanya.
  • Korea Sydenham timbul secara bertahap, dalam waktu 1 bulan biasanya korea semakin berat. Anak menunjukkan gerakan yang cepat dan tidak bertujuan, yang menghilang selama tidur. Gerakan tersebut melibatkan setiap otot kecuali otot mata. Wajahnya sering menyeringai.
  • Pada kasus yang ringan anak tampak kaku dan sedikit mengalami kesulitan dalam berpakaian dan makan.
  • Pada kasus yang berat, anak sering melakukan hal-hal yang dapat melukai dirinya sendiri (memukul-mukul lengan atau tungkainya sendiri).
  • Korea biasanya menghilang secara bertahap setelah 4 bulan, tetapi kadang berlangsung selama 6-8 bulan.
  • Pada saat gejala lainnya menghilang, timbul ruam datar dengan pinggiran yang bergelombang dan tidak disertai nyeri. Ruam ini berlangsung pendek, kadang kurang dari 24 jam.
  • Pada anak yang menderita peradangan jantung biasanya ditemukan benjolan kecil dibawah kulitnya. Nodul ini biasanya tidak menimbulkan nyeri dan akan menghilang dengan sendirinya.
  • Kadang anak mengalami nyeri perut yang hebat dan nafsu makannya berkurang.

DIAGNOSA

  • Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.
  • Pada pemeriksaan fisik dengan bantuan stetoskop mungkin akan terdengar bunyi jantung tambahan (murmur).

Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

  • Pemeriksaan darah
    • Jumlah sel darah putih bertambah
    • Laju endap darah meningkat
    • Antibodi terhadap streptokokus
  • EKG
  • Ekokardiogram.

PENGOBATAN

  • Pengobatan demam rematik memiliki 3 tujuan:
    • Menyembuhkan infeksi streptokokus dan mencegah kekambuhan
    • Mengurangi peradangan,t erutama pada persendian dan jantung
    • Membatasi aktivitas fisik yang dapat memperburuk organ yang meradang.
  • Jika terjadi infeksi streptokokus (misalnya strep throat), diberikan antibiotik penisilin selama 10 hari.
  • Kepada anak yang menderita demam rematik diberikan suntikan penisilin untuk membasmi infeksi yang tersisa.
  • Untuk mengurangi peradangan dan nyeri, diberikan NSAIDs (obat anti peradangan non-steroid) dalam dosis tinggi, terutama jika telah terjadi artritis.
  • Kadang perlu digunakan obat pereda nyeri yang lebih kuat (misalnya Codein).
  • Pada karditis yang berat diberikan kortikosteroid (misalnya Prednison).
  • Anak harus menjalani tirah baring. Aktivitasnya harus dibatasi untuk menghindari stres pada sendi yang meradang. Jika jantung juga meradang, anak harus lebih banyak menjalani tirah baring.
  • Jika terjadi kerusakan katup jantung, maka sepanjang hidupnya penderita akan memiliki resiko menderita infeksi katup (endokarditis).
  • Sampai usia 18 tahun, untuk membantu mencegah infeksi, kepada anak-anak yang menderita demam rematik sebaiknya diberikan penisilin per-oral (melalui mulut) atau melalui suntikan bulanan.
  • Anak-anak yang mengalami kerusakan katup jantung harus selalu mengkonsumsi antibiotik sebelum menjalani setiap jenis pembedahan, termasuk pencabutan gigi.

PENCEGAHAN

Cara terbaik untuk mencegah demam rematik adalah gizi yang baik dan pengobatan antibiotik pada setiap infeksi streptokokus.

Sumber : www.medicastore.com

Croup (Laringotrakeobronkitis)

Croup (Laringotrakeobronkitis)
Krup.jpg

DEFINISI

Croup (Laringotrakeobronkitis) adalah suatu infeksi virus yang menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada saluran pernafasan bagian atas (laring, trakea dan bronkus). Krup ditandai dengan batuk kering dan sesak nafas.

PENYEBAB

  • Croup biasanya disebabkan virus para-influenza, respiratory syncytial virus (RSV) and virus influenza A dan B.
  • Virus tersebut banyak ditemukan di dalam udara dan ditularkan melalui percikan air ludah atau melaui benda-benda yang terkontaminasi oleh ludah penderita.
  • Croup paling sering ditemukan pada anak-anak yang berumur 6 bulan – 3 tahun.
  • Pada kasus yang berat, bisa terjadi superinfeksi oleh bakteri. Keadaan ini disebut trakeitis bakterial dan harus diatasi dengan antibiotik.
  • Jika terjadi infeksi pada epiglotis, seluruh pipa udara bisa membengkak dan bisa berakibat fatal.

GEJALA

  • Croup biasanya diawali dengan gejala yang menyerupai flu.
  • Terjadi pembengkakan pada saluran pernafasan sehingga saluran udara menyempit dan penderita mengalami gangguan pernafasan. Gangguan pernafasan, batuk kering dan suara serak biasanya pertama kali muncul pada malam hari.
  • Gangguan pernafasan menyebabkan anak terbangun dari tidurnya. Pernafasannya menjadi cepat dan dalam, dan separuh penderita mengalami demam.
  • Keadaan anak akan membaik di pagi hari, tetapi kembali memburuk pada malam hari.
  • Croup biasanya berlangsung selama 3-4 hari.
  • Croup yang sering kambuh disebut krup spasmodik, yang mungkin disebebkan oleh alergi, tetapi biasanya diawali oleh infeksi virus.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:

  • Stridor (bunyi pernafasan yang bernada tinggi)
  • Sianosis (warna kulit menjadi kebiruan karena kekurangan oksigen)
  • Retraksi interkostal (meningkatnya pemakaian otot-otot leher dan dada sebagai usaha untuk bernafas).

DIAGNOSA

  • Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik yang menunjukkan adanya retraksi interkostal pada saat anak menghirup nafas.
  • Pemeriksaan dengan stetoskop menunjukkan adanya wheezing (bunyi nafas mengi), fase inspirasi (penghirupan udara) dan ekspirasi (penghembusan udara) yang memanjang dan berkurangnya suara pernafasan.
  • Rontgen leher bisa menunjukkan adanya penyempitan trakea.

PENGOBATAN

  • Jika penyakitnya ringan, anak tidak perlu dirawat di rumah sakit.
  • Di rumah bisa digunakan humidifier untuk melembabkan udara dan sebaiknya anak minum banyak cairan serta istirahat yang cukup.
  • Jika penyakitnya berat, biasanya anak dirawat di rumah sakit dan mendapatkan oksigen tambahan. Untuk membantu pernafasannya bisa dipasang ventilator.
  • Nebulizer ultrasonik bisa mengurangi jumlah lendir yang sampai ke saluran pernafasan bagian bawah dan mengurangi kekentalan lendir sehingga lebih mudah dikeluarkan melalui batuk.
  • Bronkodilator (obat untuk melebarkan saluran pernafasan) bisa dihirup melalui nebulizer sehingga anak bernafas dengan lebih mudah.
  • Sebagai pengobatan awal pada krup yang berat, diberikan kortikosteroid (tetapi hal ini masih bersifat kontroversial).
  • Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik.

PENCEGAHAN

  • Untuk mencegah sesak napas, mengambil langkah yang sama yang Anda gunakan untuk mencegah pilek dan flu. Sering cuci tangan adalah paling penting. Juga menjaga anak Anda menjauh dari orang yang sedang sakit, dan mendorong anak Anda untuk batuk atau bersin ke siku nya.
  • Untuk mencegah infeksi lebih-serius, tetap imunisasi anak Anda saat ini. The difteri, Haemophilus influenzae tipe b (Hib) dan vaksin campak memberikan perlindungan dari beberapa infeksi yang paling langka – tetapi paling berbahaya – bentuk infeksi saluran napas atas.

Sumber : www.medicastore.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.031 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: